Ibadah Qurban pada Hari Raya Idul Adha adalah salah satu syariat Islam yang sarat makna. Ia bukan sekadar ritual tahunan menyembelih hewan, melainkan sebuah manifestasi ketundukan total, keikhlasan, dan kepedulian sosial seorang hamba kepada Sang Pencipta. Motivasi terbesar bagi seorang Muslim untuk berkurban haruslah berakar pada dimensi spiritual dan sosial, jauh melampaui urusan materi.
Fondasi utama ibadah kurban adalah meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini mengajarkan bahwa inti dari kurban adalah pengorbanan yang paling mahal, yakni melepaskan apa yang paling dicintai, demi menjalankan perintah Allah SWT.
Amalan yang Paling Dicintai Allah Motivasi paling kuat bagi seorang Muslim adalah mengetahui bahwa berkurban merupakan amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah selain mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Sesungguhnya darah (kurban) itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka, bersihkanlah jiwa kalian dengannya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Mendekatkan Diri (Taqarrub) Secara bahasa, kata "kurban" berasal dari bahasa Arab qariba yang berarti dekat. Motivasi ini adalah tentang mendekatkan diri kepada Allah. Allah SWT menegaskan bahwa yang diterima dari ibadah ini bukanlah daging atau darahnya, melainkan ketakwaan dari pelakunya:
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37).
Ibadah kurban secara filosofis mengajarkan seorang Muslim untuk menyembelih "hewan" yang ada di dalam dirinya, yaitu sifat-sifat buruk dan hawa nafsu yang dominan.
Mengalahkan Ego dan Kekikiran: Berkurban melatih keikhlasan untuk mengeluarkan harta yang dicintai. Ini adalah latihan untuk melawan sifat kikir dan mengikis rasa kepemilikan mutlak terhadap harta, menyadari bahwa semua adalah titipan dari Allah.
Wujud Syukur: Dengan berkurban, seorang Muslim mewujudkan rasa syukurnya atas segala rezeki dan karunia yang telah Allah berikan selama setahun.
Bekal di Hari Kiamat: Hewan kurban dijanjikan akan datang pada Hari Kiamat sebagai saksi dan bahkan sebagai "kendaraan" bagi orang yang berkurban untuk melintasi Shirath (jembatan). Selain itu, setiap helai bulu hewan kurban bernilai satu kebaikan.
Kurban memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan yang sangat kuat. Ini adalah jembatan solidaritas yang menghubungkan si kaya dan si miskin.
Pemerataan Rezeki: Daging kurban didistribusikan secara merata, memberikan kesempatan bagi kaum fakir dan miskin untuk menikmati hidangan daging yang mungkin jarang mereka konsumsi. Kurban menjadi bentuk nyata keadilan ekonomi dan jembatan kebahagiaan.
Membangun Empati: Proses berkurban menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, melatih jiwa untuk tidak individualis dan lebih peka terhadap kondisi tetangga dan sesama yang membutuhkan.
Mempererat Silaturahmi: Pembagian daging kurban seringkali melibatkan interaksi sosial yang hangat antarwarga, panitia, dan penerima, sehingga memperkuat tali silaturahmi dan kebersamaan umat.
Bagi Muslim yang memiliki kelapangan rezeki namun enggan berkurban, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras: "Siapa yang memiliki kelapangan rezeki, tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Oleh karena itu, motivasi berkurban adalah panggilan suci untuk meraih keutamaan: ketaatan, keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian. Ketika motivasi ini lurus, maka ibadah kurban yang dilaksanakan akan menjadi amal saleh yang diterima dan memberkahi harta serta jiwa pelakunya.